Laga Derby d'Italia sejak Calciopoli 2006 memang jadi tambah panas dan kian sengit saja, karena Juventus merasa diperlakukan tidak adil, sedangkan Inter mendapat keuntungan dengan mendapat "hibah" Scudetto saat 'Si Nyonya Tua' didegradasikan ke Seri B.
Hal ini terus membayangi rivalitas kedua tim dan ketika Juventus menjadi juara Serie A, mereka pun seperti memberi "tamparan" untuk Inter karena pada akhirnya tim asal Turin itu finis lebih baik dibanding rivalnya.
Psy war pun kian kencang ketika Juventus dan Inter bertemu di Juventus Stadium pada pekan ke-11 Serie A, Minggu (4/11) dinihari WIB. Direktur Umum Juve, Beppe Marotta, mengkritik Stramaccioni terkait pemilihan formasi oleh pelatih muda itu.
Namun, akhirnya Stramaccioni membuktikan jika taktik yang digunakannya jitu dan Inter membawa pulang kemenangan 3-1 setelah sempat tertinggal terlebih dahulu di babak pertama.
"Saya coba mempersiapkan laga dengan cara sebaik mungkin dan nada-nada sarkasme mengenai pemilihan Inter sangatlah mengganggu. Di akhir laga mungkin Marotta akan berpikir lain. Saya hanya ingin respek darinya," tutur Stramaccioni di Football Italia.
"Mereka berkomentar secara sarkastik mengenai kehati-hatian saya untuk menggunakan taktik -- kami mempersiapkan laga ini secara detil selama latihan," lanjutnya.
"Inter benar-benar membuat Juventus dalam masalah, tim yang mendominasi sepakbola Italia selama dua musim terakhir. Kami menang terlepas dari insiden di mana saya janji tak akan membicarakannya. Jadi saya rasa kami pantas lebih dihormati." tegas mantan pelatih primavera Inter ini.
Terakhir Stramaccioni pun turut berkomentar soal klaim 30 Scudetto yang kerap disuarakan kubu Juventus.
"Juventus selalu berbicara soal apa yang terjadi di lapangan, di lapangan, di lapangan,-- well, Inter mengalahkan mereka di lapangan," tandas Strama.

0 komentar:
Posting Komentar